Hilary’s Blog

September 9, 2007

Jaras Dopamin Sentral

Filed under: psikiatri biologi — Hilary @ 1:14 pm

Jaras Dopamin

Mengetahui dan memahami jaras (pathway) dopamin sentral sangatlah penting bagi orang yang bergerak di bidang psikofarmakologi. Dengan mengetahui hal tersebut akan memudahkan kita dalam memahami cara kerja obat psikotropik khususnya antipsikotik.

Saat ini ada 4 jaras neurotransmiter dopamin sentral yang diketahui (menurut Stahl) yaitu (1) jaras nigro-striatal (2) jaras mesolimbik (3) jaras mesokorteks dan (4) jaras tuberoinfundibuler.

Jaras nigrostriatal, bermula dari substansia nigra menuju striatum ganglia basalis. Jaras ini mengatur pergerakan pada manusia. Obat antipsikotik, khususnya generasi I atau atipikal bekerja dengan jalan memblok total (tidak selektif) reseptor dopamin (khususnya D2 receptor) di pasca sinaps neuron. Akibat bloking ini maka secara klinis terlihat pergerakan pasien akan terganggu sehingga muncul gejala yang dinamakan EPS (extra-piramidal syndrome). Gejala EPS ini mulai dari yang paling ringan dan akut seperti distonia akut, trias parkinsonism, akathisia sampai yang dalam bentuk paling berat dan kronis yaitu diskinesia tardif.

Jaras Mesolimbik, bermula dari area tegmental midbrain ventral menuju ke nukleus accumbens, yang merupakan salah satu bagian dari sistem limbik yang mengatur perilaku, sensasi yang menyenangkan, rasa euforia pada drug abuse, juga waham dan halusinasi pada penderita psikosis (gejala positif).

Jaras Mesokorteks, bermula dari area tegmental midbrain ventral, namun aksonnya menuju korteks limbik. Jaras ini bertanggungjawab terhadap simptom positif dan negatif psikotik dan juga efek samping kognitif akibat pemakaian obat antipsikotik (gejala negatif).

Jaras Tuberoinfundibuler, bermula dari hipotalamus menuju kelenjar hipofisis anterior. Jaras ini bertanggungjawab terhadap pengontrolan sekresi prolaktin. Neurotransmiter dopamin sentral berfungsi menginhibisi sekresi prolaktin. Bila fungsi ini terganggu sebagai akibat bloking obat antipsikotik khususnya yang konvensional, maka kadar prolaktin dalam darah akan meningkat (terjadi hiperprolaktinemia). Secara klinis akan menunjukkan gejala amenorrhoe, ginekomastia dll.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: