Hilary’s Blog

September 28, 2007

Obesitas termasuk Gangguan Otak?

Filed under: obesitas — Hilary @ 3:52 pm

obesity.jpg

Seseorang dinyatakan menderita obesitas apabila mempunyai body mass index lebih dari 30. Problem obesitas ini meningkat secara tajam dalam waktu 30 tahun terakhir ini (rata-rata 50% perdekade). Obesitas meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler, diabetes, kanker dan penyakit lain dan mengakibatkan penurunan life expectancy 5 sampai 20 tahun.

Walaupun telah terdapat kemajuan dalam penatalaksanaan komplikasi medik obesitas seperti diabetes, hipertensi dan hiperkolesterolemia, namun biasanya penderita gagal dalam mempertahankan berat tubuh. Intervensi standar adalah melakukan perubahan life style dengan mengurangi konsumsi makanan tertentu (diet) dan meningkatkan aktivitas fisik (olahraga).

Dalam DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder fourth edition) gangguan makan yang dikategorikan sebagai mental disorder antara lain anoreksia dan bulimia sedangkan obesitas hanya termasuk sebagai konsekuensi medik dan psikologis. Di sisi yang lain obesitas mempunyai ciri-ciri kompulsif yaitu suatu keinginan yang berulang-ulang yang sulit untuk dicegah dalam hal ini adalah mengkonsumsi makanan dan ketidakmampuan dalam mempertahankan untuk tidak makan. Hal ini dapat kita analogkan dengan penyalahgunaan zat (substance abuse) dan ketergantungan obat (drug dependence) sehingga bisa dikatakan dengan ketergantungan terhadap makanan (food addiction).

Timbul pertanyaan, bagian sirkuit otak mana yang berhubungan dengan obesitas? Sebagaimana kita ketahui bahwa hipotalamus merupakan bagian utama otak yang mengontrol regulasi sinyal-sinyal untuk menkonsumsi makanan. Produk genetik tertentu (leptin, ghrelin dan insuln) yang memodulasi aktivitas hipotalamus juga diekspresikan ke bagian limbik otak untuk meningkatkan respons reward, motivasi, belajar, emosi dan respons terhadap stres termasuk juga memodulasi konsumsi makanan.

Pada individu yang vulnerable (rentan) baik yang disebabkan faktor genetik maupun faktor perkembangan, tentu saja hal ini dapat menyebabkan perilaku kompulsif dalam mengkonsumsi makanan. Mekanisme otak yang mendasarinya adalah sama dengan perilaku kompulsi dalam hal mengkonsumsi obat pada gangguan adiksi obat. Baik konsumsi makanan maupun pemakaian obat didasari oleh proses rewarding, yang berhubungan dengan peningkatan aktivitas dopamin di dalam sirkuit reward otak namun bekerja dalam cara yang berbeda. Makanan mengaktivasi sirkuit reward otak melalui palatability (dimediasi sebagian oleh opioid endogen dan kanabinoid) dan juga melalui peningkatan peptida yang memodulasi aktivitas dopamin (insulin dan leptin). Sedangkan obat mengaktivasi sirkuit yang sama secara langsung melalui efek farmakologinya (dimediasi oleh efek langsungnya pada sel dopamin atau dengan efeknya pada neurotransmiter yang memodulasi sel dopamin seperti opioid, nikotin, GABA (gamma amino butyric acid) dan kanabinoid.

Intervensi terapeutik yang komprehensif sangat dibutuhkan dalam pengendalian konsumsi makanan ini. Karena kerumitan pertimbangan dan penatalaksanaannya maka sebaiknya obesitas bukan hanya digolongkan sebagai gangguan metabolik melainkan sebagai mental disorder.

1 Comment »

  1. saya sedang skripsi dengan judul gambaran sikap siswa sekolah dasar terhadap interaksi sosial, saya mohon pendapatnya tentang skripsi saya, apakah lebih ke obesitasnya atau ke interaksi sosialnya???? terima kasih

    Comment by anton — January 25, 2008 @ 7:24 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: