Hilary’s Blog

September 29, 2007

Gangguan Tidur pada Penderita Depresi

Filed under: depresi — Hilary @ 2:04 am

Gambar Siklus Tidur Normal

Sebelum membahas gangguan tidur pada penderita depresi, ada baiknya diketahui terlebih dahulu pola tidur normal pada manusia dewasa. Gambar di atas memperlihatkan siklus tidur orang dewasa normal. Tidur manusia umumnya dibagi menjadi 2 macam yaitu tidur REM (rapid eye movement) dan tidur non-REM. Pembagian tersebut didasarkan atas pemeriksaan EEG (electro-encephalogram), EOG (electroocculogram) dan EMG (electromyogram).

Dalam keadaan terjaga sesaat sebelum tertidur, gambaran EEG memperlihatkan adanya dominasi gelombang alfa (8-12 Hz). Hal ini berlangsung sekitar 5-10 menit. Setelah itu akan memasuki fase tidur yang terdiri dari 4 fase.

Fase 1, tampak gelombang alfa mulai berkurang, lebih banyak muncul gelombang LVM (low-voltage-mix-frequency). Pada EOG tidak tampak kedip mata atau REM. Pada EMG tampak potesialnya menurun. Fase ini berlangsung 5-10 menit sebelum memasuki fase 2.

Fase 2, berlangsung relatif lebih lama dari fase 1 (antara 20-40 menit). Pada EEG tampak kompleks-K, sleep spindle atau gelombang delta. Pada EOG sama sekali tidak tampak REM dan kedip mata. Potensial EMG menjadi semakin rendah.

Fase3, gambarannya mirip dengan fase 2 namun gelombang delta menjadi lebih dominan (maksimal 50%). Fase 3 ini berlangsung lebih lama pada dewasa tua tetapi lebih singkat pada dewasa muda.

Fase 4, berlangsung hampir 30 menit. Gambaran EEG tidak didominasi lagi oleh gelombang delta namun oleh LVM seperti pada fase 1. Pada EOG didapati gerakan- gerakan mata. Keadaan ini dinamakan stage REM yang berlangsung 10-15 menit pada stage REM pertama.

Stage REM bukan termasuk tidur dan juga bukan termasuk keadaan terjaga. Stage REM bukan dinamakan tidur karena tidak terdapat gambaran tidur (yaitu adanya sleep spindle, kompleks-K dan delta). Stage REM bukan termasuk dalam keadaan terjaga karena tidak terdapat gambaran terjaga (yaitu gelombang alfa yang lebih dari 25% gambaran EEG dan potensial EMG yang tinggi).

Setelah fase REM, tidur dimulai lagi seperti pada fase permulaan, namun dimulai dari fase 2 (bukan 1 lagi), fase 3 dan fase 4. Kemudian muncul REM ke-2 yang biasanya lebih lama dari REM pertama. REM bertambah panjang dan lama pada akhir tidur.

Ada juga yang membagi tidur dalam 3 bagian yaitu sepertiga awal, sepertiga tengah dan sepertiga akhir. Pada orang normal sepertiga awal didominasi fase 3 dan fase 4. Pada sepertiga tengah lebih banyak tidur dangkal (fase2) dan pada sepertiga akhir lebih banyak tidur REM.

Pada penderita depresi terjadi pemendekan latensi fase REM (yaitu waktu antara tertidur dan periode REM pertama), perlambatan onset tidur, peningkatan panjang periode REM pertama dan tidur delta yang abnormal.

Secara klinis penderita dengan gangguan depresi mengalami perubahan pola tidurnya yaitu terjadi insomnia awal dan terminal, terbangun terulang kali dan hipersomnia. Penderita sering terbangun di malam hari atau dini hari dan tidak bisa tidur lagi sampai pagi harinya. Dengan demikian mengakibatkan perasaan subyektif yang lain seperti badan terasa lemah dan lemas saat bangun, kepala pusing , sulit berkonsentrasi dll.

(sumber: desertasi dr. Yul Iskandar, Sp.KJ)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: