Hilary’s Blog

October 2, 2007

Pygmalion Complex

Filed under: psikologi — Hilary @ 4:13 am

Pygmalion yang jatuh cinta kepada patung buatannya sendiri

Konon menurut dongeng Yunani, Pygmalion adalah seorang seniman pembuat patung tersohor. Apresiasinya terhadap keindahan dan kecantikan sangat tinggi dan hal ini bermanifestasi saat ia mencari jodoh yang tidak pernah ketemu karena keinginannya yang perfeksionis. Dalam kesendiriannya akhirnya dia berhasil menciptakan sebuah patung wanita yang sangat cantik dan sempurna sesuai keinginannya. Lama-kelamaan iapun jatuh cinta kepada patung tersebut dan memohon kepada Dewa di Olympus agar patung tersebut dihidupkan sebagaimana manusia. Setelah keinginannya terpenuhi wanita itu diberi nama Galatea dan dijadikan isterinya.

Semangat Pygmalion ini seringkali menghinggapi profesi tertentu seperti guru atau dosen, para komandan, sutradara film bahkan para orangtua. Manusia seperti ini cenderung untuk menciptakan kembarannya sendiri. Dia mau membuat manusia lain sesuai dengan keinginannya, sesuai dengan sifatnya, sesuai dengan cita-citanya. Dedikasi manusia bertipe ini sangatlah tinggi sehingga sanggup mengorbankan segalanya demi keinginannya namun seringkali tidak sesuai dengan keinginan atau hati nurani orang-orang yang dibentuknya tersebut. Seorang guru tidak akan meluluskan murid atau mahasiswanya sebelum mereka secara 100% sesuai dengan keinginannya. Seorang komandan tidak akan memaafkan anggotanya sebelum mereka benar-benar terbentuk sesuai keinginannya. Sebagai orangtua tidak akan melepaskan anaknya sebelum anaknya mencapai sesuatu sesuai keinginannya sendiri tanpa mempertimbangkan keinginan, bakat dan kemampuan anaknya yang sangat berbeda dengan dirinya.

Sadarlah bahwa kita sedang menghadapi manusia lain yang bukan diri kita. Orangtua hanya berperan sebagai katalisator dan tidak berhak berlaku sebagai pencipta orang lain. Diharapkan seorang anak akan menjadi dirinya sendiri dan mengisi kehidupan dengan berhasil sesuai keinginannya. Bukankah biasanya orang yang berhasil itu adalah orang yang hidup dan bekerja sesuai dengan keinginan dan kemampuannya tanpa adanya paksaan dari orang lain? Inilah Pygmalion complex.

Sumber buku: Mengatasi Hambatan2 Kepribadian (Mangunhardjana).

2 Comments »

  1. Hayo….
    Jangan jadi generasi pygmalion complex ini. Memang saat di baca kita merasa ih kok bisa ada orang seperti ini ya? Padahal mungkin aja, kita juga begitu. Sadarilah, dan coba diperbaiki

    GBU

    Comment by :) — October 6, 2007 @ 1:36 am | Reply

  2. Mungkin saja kita juga mempunyai perilaku seperti ini, namun mungkin kadarnya berbeda-beda (spektrum), ada yang sangat kuat, ada juga yang sekedarnya. Yang penting adalah bagaimana kita melaksanakan hal tersebut pada waktu yang tepat. Seorang anak tidak bisa terlalu dikekang namun juga tidak boleh terlalu dibebaskan, demikian.

    Comment by Hilary — October 6, 2007 @ 12:35 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: