Hilary’s Blog

October 6, 2007

Narsis dan Masturbasi

Filed under: istilah — Hilary @ 10:30 am

Narcissus yang jatuh cinta kepada bayangannya sendiri

Istilah narsis seringkali kita dengar bahkan kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. Berasal dari mitos Yunani, narsis berasal dari kata narcissism. Diceritakan bahwa terdapat seorang pemuda Yunani yang sangat tampan bahkan karena ketampanannya sang pemuda menolak cinta dewi dari kayangan. Akibat dari penolakannya itu dia dihukum berupa jatuh cinta terhadap bayangannya sendiri yang dilihatnya di suatu kolam air.

Istilah narcissism pertamakali dipergunakan oleh Nacke untuk menyatakan bentuk auto-erotism (aktivitas kecintaan terhadap diri sendiri), seringkali tanpa obyek genitalia. Namun ada juga yang menghubungkan istilah ini dengan rangsangan genital, Krafft-Ebing menyatakan istilah ini untuk seorang laki-laki yang melakukan masturbasi di depan sebuah cermin sambil melihat dirinya sendiri dan ia lebih suka melakukan aktivitas seksual dengan dirinya sendiri (masturbasi) dibandingkan berhubungan dengan isterinya.

Dari aspek psikoanalitik lebih rumit lagi, narcissism dibagi menjadi 2 yaitu, narcissism primer dan narcissism sekunder. Keduanya merupakan tahapan perkembangan relasi obyek seorang anak. Pada narcissism primer, seorang infan akan menolak segala sesuatu di luar dirinya dan belum bisa membedakan antara objek lain dan dirinya (self). Pada tahapan selanjutnya yaitu narcissism sekunder, dia menyadari bahwa segala sesuatu itu bukan merupakan bagian dari dirinya dan dia harus mengembangkan hubungan terhadap obyek tersebut. Dengan kata lain libido-obyek ditransformasikan ke libido-ego. Sebagai contohnya seorang penderita gangguan skizofrenia mengalami regresi, dia akan menarik libidonya dari realitas sehingga libidonya berada di belakang ide-ide kebesaran. Hal ini mirip dengan yang dikatakan oleh Freud dengan manifestasi infantil dari megalomania.

Ada juga istilah yang disebut dengan narsisisme-penyakit (disease-narcissism). Dikemukakan oleh Ferenczi dengan maksud adanya hiperkateksis terhadap dirinya sendiri dan cenderung merupakan perjalanan suatu penyakit. Dia mencontohkan mengenai seorang tentara. Dalam suatu pertempuran, tentara ini kehilangan hampir sebagian besar rahang bawahnya. Wajahnya menjadi rusak sebagai akibat peristiwa tersebut. Satu-satunya yang tersisa bagi dirinya adalah naive narcissism. Akibatnya dia meminta agar seorang suster melayaninya sepanjang hari, dia tidak mau memakan makanan yang diberikan oleh rumah sakit kecuali makanan dari luar, dia senantiasa menyatakan hal tersebut berulangkali dan meminta pelayanan terhadap dirinya ditingkatkan sambil bersungut-sungut.

Dalam bidang psikiatri modern, istilah narsisistik seringkali dikaitkan dengan gangguan kepribadian. Dalam DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder fourth edition), narsisistik termasuk ke dalam gangguan kepribadian cluster B, yaitu gangguan kepribadian narsisistik. Ciri khas cluster B ini adalah kurangnya rasa empati yang dimiliki penderita dalam kelompok ini. Selain narsisistik, terdapat juga gangguan kepribadian ambang, gangguan kepribadian histrionik dan gangguan kepribadian antisosial (klasifikasi dan kriteria diagnostik secara lengkap dapat dilihat dalam buku DSM-IV).

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: